Belajar Bisnis Sejak Kecil, Jadi Ketua Kadin Termuda
Kisah Sukses Pengusaha Muda di Kaltim; Fauzi Bahtar

hmf kecilBelajarlah sesuatu sejak dini. Petuah bijak yang tepat ditujukan pada seorang Fauzi Bahtar. Sejak di bangku SD, dia akrab dengan lingkungan bisnis. Bahkan kini, di usianya yang memasuki 41 tahun, ia memegang jabatan penting di dunia usaha, sebagai ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim.


SEKITAR
akhir 70-an, Fauzi kecil masih duduk di bangku sekolah dasar. Ayahnya bernama H Achmad Bahtar adalah seorang pengusaha koral di Kota Samarinda. Alur bisnisnya sederhana, yakni membawa koral dari hulu Sungai Mahakam, lalu mengumpulkannya di Samarinda, yakni di Jl Slamet Riyadi. Setelah itu baru disalurkan ke konsumen.

Sang ayah memang tahu benar bagaimana membentuk mental bisnis Fauzi kecil. Fauzi pun sering diajak untuk sekedar melihat-lihat di bagian pengarsipan. Dari sanalah, Fauzi kecil tahu benar seluk beluk bisnis. Tak hanya di belakang meja, tempaan sang ayah juga diterimanya di lapangan. Hasilnya, ia bisa mengenal banyak orang dengan berbagai karakter.

Itulah masa kecil pria kelahiran Long Iram, 30 Juni 1967. Masa kecil yang baginya sangat berharga. Berbekal ilmu yang diturunkan ayahnya, anak kedua dari tujuh bersaudara ini pun mulai menjalankan bisnis keluarga di bidang perkayuan pada 1986 silam. Memang saat itu bisnis perkayuan memasuki masa keemasannya. Namun ketika bisnis perkayuan mulai redup, ia pun mulai melirik ke bisnis lain.

Properti, bisnis yang menurutnya menjanjikan. Di tengah badai krisis moneter 1997 lalu, ia berani masuk ke bisnis ini. “Kala itu, banyak bank yang tak berani memberi kredit, akhirnya dengan sedikit modal dari bisnis kayu, saya mulai terjun ke bisnis properti,” kenang suami Rina Barito ini.

Kini, lewat konsorsium bersama rekannya, beberapa kompleks perumahan telah berhasil dikembangkan. Di antaranya Perumahan Korpri di Samarinda Seberang serta Perumahan Bhumi Prestasi Kencana di mana ia memiliki sebagian saham. “Prinsip saya mengembangkan bisnis dengan orang lain yaitu berbagi risiko, bukan berbagi untung. Jika kita mampu berbagi risiko, maka berbagi keuntungan tentu bukan masalah,” tuturnya.

Ketajamannya melihat peluang bisnis memang tak diragukan lagi. Tak cukup bergelut di bisnis properti, ia pun merambah ke berbagai bidang usaha dan investasi. Lewat perusahaan keluarga seperti PT Asta Bharata Cendana dan PT Adha Bina Citra yang tergabung dalam ABC Group, industri sawmill, HPH, supplier, penyewaan alat berat, sampai pertambangan batu bara pun digarapnya.

Kerja kerasnya membuahkan hasil. Berkat kesuksesannya, Fauzi dipercaya menjadi ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kaltim pada 2001. Tak sampai di situ, karir organisasi mantan wakil ketua Asosiasi Rekanan dan Distributor Indonesia (Ardin) Kaltim ini semakin menanjak saat 2007 silam dipercaya menjadi ketua umum Kadin Kaltim.

“Jangankan bermimpi, berkhayal pun tak pernah,” jawabnya ketika ditanya perasaannya saat terpilih menjadi ketua Kadin.Menurut ayah dari Fina Nur Azmy (14) dan Muhammad Fauzan Fahlevi (11) ini, Kadin adalah organisasi yang besar. Karenanya, amanah memimpin Kadin harus benar-benar dijalankan, yakni berguna bagi anggotanya serta menjaga iklim usaha di Kaltim.

“Beberapa waktu lalu saya baru saja mengikuti sidang kabinet di Jakarta. Di sana saya tahu kalau ternyata saya adalah ketua Kadin yang termuda,” ujarnya merendah, sembari menunjukkan selembar nota kesepahaman antara Kadin Kaltim dengan Pemprov Kaltim.

Dengan segudang aktivitas, pria yang memiliki hobi mengoleksi benda antik serta mengunjungi daerah pedalaman ini juga aktif di bidang sosial. Ia juga tercatat sebagai pengurus di dua lembaga pendidikan di Samarinda. Yaitu sejak tahun 2000 menjadi wakil ketua Yayasan Widya Karya Pemuda yang mengelola Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Samarinda, serta menjadi dewan pengurus Yayasan Darul Da’wah Wal Irsyad (DDI) Kaltim yang mengelola SMP dan SMK DDI.

Lantas, setelah semua kesuksesan yang diraihnya, hal apa yang ingin dilakukannya di masa tua nanti? “Kembali ke kampung halaman (Long Iram, Red.) dan mendirikan yayasan pendidikan untuk membantu sesama. Bagi saya pendidikan itu penting,” tuturnya bersemangat. (felanans mustari)