Kadin Indonesia telah mengevaluasi perekonomian nasional serta memperkirakan kondisi perkembangan ekonomi ke depan di tahun 2013. Evaluasi Kadin tersebut difokuskan pada isu-isu strategis nasional dan isu-isu krusial yang perlu mendapat perhatian seperti daya saing nasional, subsidi BBM, infrastruktur dan logistik, iklim investasi, kondisi UMKM, FTA, Investment Fund, serta masalah pasar dalam negeri yang diserbu waralaba asing.

Kadin memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia 2012 mencapai 3,5 persen, lebih rendah dibandingkan tahun 2011 yang mencapai 3,9 persen. Sementara itu, Kadin memperkirakan perekonomian dunia di tahun 2013 akan lebih baik dibandingkan tahun 2012 meski masih dibayangi oleh berbagai ketidakpastian.

Adapun yang menjadi faktor ketidakpastian tersebut diantaranya krisis utang negara-negara maju terutama Eropa; ketegangan politik di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Semenanjung Korea; ketegangan Cina dan Jepang, perubahan iklim dan potensi bencana alam di tingkat global; serta harga energi yang akan melambung tinggi jika terjadi konflik di Iran.

“Situasi tersebut berpotensi meningkatkan proteksi pada banyak negara serta langkah tidak sehat untuk mempertahankan pasar domestiknya, akibatnya persaingan antar negara untuk memenangkan pasar perdagangan dan investasi semakin ketat, sehingga menuntut penguatan perekonomian domestik,” ungkap Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto dalam paparan Proyeksi Ekonomi 2013 Kadin, (11/12).

Kondisi global yang tidak menentu berpengaruh pada kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sampai Kwartal III 2012, pertumbuhannya sekitar 6,17 persen. “Secara keseluruhan sampai akhir 2012 pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya sekitar 6,14 persen, jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya,” ungkap Suryo.

Daya Saing

Pada tahun 2010 sampai dengan 2011 peringkat daya saing ekonomi menurun dari peringkat 44 menjadi peringkat 46 dan kemudian menurun lagi menjadi peringkat 50 pada tahun 2012. “Daya saing Indonesia masih rendah karena kualitas dan jumlah infrastruktur sangat rendah dan sangat jauh dari memadai,” kata Suryo.

Pemerintah, lanjut Suryo, memang selalu memperhatikan permasalahan ini tetapi kenyataan di lapangan infrastruktur nasional dan daerah masih sangat rendah. Hal ini tercermin dari kemacetan di jalan-jalan, transportasi publik yang tidak memadai, bandara dan pelabuhan yang tidak bertambah, kapasitas listrik yang tidak memadai serta jaringan irigasi yang justru menurun.

Peringkat daya saing yang rendah juga tercermin dari kondisi kelembagaan birokrasi yang tidak produktif dan bahkan dinilai mengganggu dunia usaha.  “Kebijakan dan regulasi pemerintah sering tidak pasti sehingga mengganggu dunia usaha.”

Tenaga kerja yang tidak efisien dan faktor ketidaksiapan teknologi juga mempengaruhi rendahnya daya saing.  “Tekanan dan tuntutan kenaikan upah sangat kuat, namun tidak disertai efisiensi dan produktivitas tenaga kerja. Ini menyebabkan dunia usaha, terutama untuk sektor industri semakin tertekan pertumbuhannya,” kata Suryo.

Kondisi infrastruktur dan layanan birokrasi yang buruk mempengaruhi ongkos produksi dan perdagangan yang semakin mahal. Sementara faktor ketenagakerjaan yang tidak efisien dan teknologi yang relatif rendah menyebabkan inefisiensi industri. “Kondisi seperti ini mempengaruhi rendahnya kemudahan melakukan usaha (Doing Business),” ungkap Ketua Umum. (sumber : Kadin Indonesia) Download Di sini selengkapnya Proyeksi Ekonomi Indonesia 2013