Ketua Umum Kadin Kaltim Bapak HM. Fauzi A. Bahtar
SAMARINDA – Pertumbuhan ekonomi nasional sampai awal 2016 diperkirakan masih melambat. Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang baru periode 2015-2020, diharapkan bisa segera men-support pemerintah untuk mengatasi berbagai gejala yang membuat pelemahan perekonomian nasional. Demikian disampaikan Ketua Umum Kadin Kaltim, Fauzi A Bachtar.
“Menurut data Badan Pusat Statistik, perekonomian nasional melemah sejak 2012 akibat krisis global tahun 2008. Pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,25 persen dan turun terus hingga menjadi 4,67 persen pada triwulan kedua 2015. Pada triwulan ke-3 mengalami sedikit kenaikan menjadi 4,7 persen. Dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi lebih besar terhadap ekonomi di luar Jawa, dibandingkan di Pulau Jawa,” paparnya, seusai mengikuti Munas Kadin di Bandung.
Pelemahan ekonomi nasional katanya, terlihat dari menurunnya daya beli konsumen, daya saing industri, dan nilai ekspor dan impor, serta melemahnya nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika. Hal ini menimbulkan peningkatan angka pengangguran terbuka. “Pemerintah, didukung oleh Kadin Indonesia harus fokus mengatasi persoalan tersebut. Upaya peningkatan daya saing ekonomi harus segera dilakukan agar ketahanan ekonomi Indonesia semakin kuat,” ujarnya.
Fauzi mengatakan, data World Economic Forum (WEF) tahun 2015 menyebutkan, indeks daya saing ekonomi Indonesia 2015-2016 meningkat dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini pada elemen makro ekonomi, ukuran pasar dan inovasi. Namun, peringkat Indonesia turun dari peringkat 34 pada 2014-2015 menjadi peringkat 37 pada 2015-2016. “Hal ini disebabkan daya saing negara-negara lain juga mengalami peningkatan yang pesat,” ujarnya.
Selain itu, kata Fauzi, persoalan yang menghambat dunia usaha dan pelaku usaha dalam menjalankan bisnis juga harus bisa diatasi oleh pemerintah. Menurut laporan WEF katanya, ekonomi Indonesia menghadapi lima permasalahan utama. Pertama korupsi; kedua, birokrasi yang tidak efisien; ketiga, ketidaksiapan infrastruktur (termasuk penyediaan tanah); keempat, kebijakan yang berubah-ubah; dan kelima, akses ke permodalan. Kelima hal ini sudah menjadi perhatian Kadin Indonesia.
Sementara menurut laporan Bank Dunia tahun 2015 tambah Fauzi, indeks kemudahan berbisnis di Indonesia berada di peringkat yang sangat jauh. Indonesia diperingkat 114 dari 189 negara yang diteliti. Sementara negara Malaysia peringkat 18, Thailand peringkat 75, dan Vietnam peringkat 78. Untuk di kawasan Asia Tenggara, peringkat Indonesia masih sangat jauh. Hal ini menunjukkan Indonesia masih menyimpan persoalan yang harus diatasi oleh pemerintah.
“Karena itulah diperlukan sinergi antara Kadin dan pemerintah. Ke depan, Kadin Indonesia harus bisa membantu mengatasi persoalan-persoalan tersebut. Bila persoalan tersebut bisa diatasi, perekonomian di Indonesia akan membaik, bahkan bisa tumbuh dengan pesat. Fokus penguatan daya saing ini juga harus dilakukan di daerah-daerah, sebagai sentral kekuatan ekonomi nasional,” ujar Fauzi didampingi Wakil Ketua Kadin Kaltim Alexander Sumarno.
Untuk diketahui Musyawarah Nasional (Munas) Kadin Indonesia VII di Bandung telah menetapkan Roslan Perkasa Roeslani sebagai ketua umum. Periode 2015-2020. Saat ini Rosan sedang menyeleksi pengurus Kadin yang akan membantunya menjalankan roda organisasi. Kadin Kaltim telah mengusulkan kader daerah sebagai pengurus Kadin Indonesia. Susunan pengurus Kadin Indonesia ditargetkan selesai satu bulan mendatang. (ran/lhl/k18)