BALIKPAPAN - Keterlibatan Indonesia di dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) membuat para pengusaha atau investor lokal harus lebih kompetitif. Pasalnya tidak menutup kemungkinan para investor asing atau perusahaan besar milik asing secara bebas berinvestasi di Indonesia.

Wakil Ketua Bidang Investasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim Alexander Sumarno kepada Kaltim Post kemarin (4/1) menilai kalangan pengusaha khususnya di Kaltim ini harus lebih dapat bersaing karena dalam MEA persaingan dunia usaha dengan pihak asing akan semakin terbuka.

Menurutnya, memang sebelumnya sudah ada perusahaan asing atau investor asing di Kaltim ini, tapi kalau adanya MEA ini jumlah perusahaan asing yang masuk akan lebih banyak dan tidak hanya menyasar skala atas tapi juga menengah ke bawah.

“Para investor asing ini pasti akan mengincar skala usaha menengah ke atas. Bahkan mungkin mereka akan berinvestasi sampai ke kabupaten yang lebih banyak dominan pengusaha kecil,” ucapnya.

Dia mencontohkan, seperti industri makanan nanti tentu sudah tidak ada larangan orang asing membuka makanan di Indonesia. Bahkan tenaga kerjanya bagian manajerial hingga kokinya berasal dari negara mereka. Kalau di Kaltim ini kemungkinan sektor menengah ke bawah yang diincar adalah sektor jasa. “Mungkin dari menengah pelan-pelan mereka bisa menjadi besar,” ucapnya.

“Kalau tidak dapat bersaing bagaimana para pengusaha lokal ini dapat bertahan. Perusahaan-perusahaan besar milik asing akan ikut bermain dan bersaing bersama dengan perusahaan-perusahaan kelas kecil atau menengah. Bisa ditebak, jika dua perusahaan besar bertarung dan mereka tidak mampu bersaing atau berkembang tidak menutup kemungkinan di tengah-tengah merek bisa rugi dan bangkrut,” kata Alex.

Pengusaha di Indonesia atau di Kaltim, kata dia, untuk servis atau persoalan etika dan layanan kurang bagus. “Diajak ketemu saja susah banyak sekali alasannya. Gaya ini sudah menjadi ciri khas Indonesia. Bagaimana kalau kita menghadapi pengusaha asing yang baik diajak bertemu mudah,” tambahnya.

Sedangkan saat ini, masih banyak monopoli pembiayaan yang terjadi apalagi di sektor bongkar muatan. Dari skala kecil sampai yang besar di sektor ini banyak sekali terjadi monopoli. Mindset para investor lokal masih lebih mencari keuntungan yang banyak ketimbang melakukan pengembangan atau memberikan layanan terbaik.

“Saya berharap, para pengusaha lokal ini harus mengubah pola pikir mereka. Yang tadinya hanya memikirkan persaingan lokal, bukalah mata dan siap hadapi persaingan usaha di pasar bebas,” tutupnya. (*/aji/lhl/k15)