Alexander SumarnoSAMARINDA – Mengatasi inflasi di ibu kota Kaltim sama dengan menghadapi kelebihan bongkar muat pelabuhan. Ya, bisa dikatakan begitu. Sebab, salah satu unsur utama penyebab inflasi adalah urusan transportasi, yang kebanyakan lewat jalur perairan, kini belum teratasi 100 persen.

Pelabuhan Terminal Peti Kemas (TPK) Palaran sudah melebihi ambang batas bongkar muat sebelum targetnya pada 2018, yakni 250 ribu teus box kontainer per tahun sejak 2013. Yakni, tatkala berpindahnya pelabuhan terbesar Samarinda ini dari Jalan Yoes Sodarso di Kecamatan Samarinda Ilir, menuju Kecamatan Palaran. Yakni, dengan maksud agar Jalan Yoes Sudarso tak lagi macet, namun memperjauh jarak tempuh ke lokasi pergudangan di Jalan Ir Sutami.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Samarinda Jony Bachtiar menuturkan, tingkat inflasi yang sulit dibendung di Kota Tepian adalah bermula dari pelabuhan. Sebab, rata-rata suplai bahan makanan dari luar daerah maupun luar negeri masih melewati jalur pelabuhan Samarinda. Yaitu, seperti Kukar, Kutim, bahkan Kubar, masih mengandalkan transport perairan melalui Samarinda.

“Jalur suplai yang mesti melewati pergudangan di Jalan Ir Sutami (Kecamatan Sungai Kunjang), memiliki jarak tempuh yang jauh. Sehingga para pemesan bahan makanan dari luar kota harus rela menunggu antrean. Setelah dari pergudangan, barulah bahan kiriman bisa ditransfer lewat jalur darat ke daerah luar,” urai dia.

Untuk upaya penanganan, ujar Jony, pihaknya selalu mengupayakan pengecekan lapangan setelah mendapat data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Samarinda. “Kami langsung cek ke ditributornya langsung, apa benar yang terjadi demikian (data BPS). Untuk pengecekan pengecer, kami ke ketua kelompok dagang,” imbuhnya.

Terpisah, Wakil Ketua Bidang Investasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim Alexander Sumarno menyatakan, pelabuhan di Samarinda masih sulit mengatasi kelebihan muatan. Tak hanya itu, urusan jalur perairan itu diragukannya dapat berjalan mulus dengan dibangunnya Jembatan Mahkota II penghubung Kelurahan Makroman dengan Palaran.

Sebab, Alex berpandangan jembatan tersebut tak pas ketinggiannya. “Ini nanti bisa mengganggu jalur perairan. Kapal, terutama yang berukuran besar akan sulit lewat sana,” ungkapnya, beberapa waktu lalu kepada Kaltim Post. (*/mon/lhl/k18)